Surah Al-Baqarah ayat 183 tersebut berisi tentang dalil kewajiban berpuasa. Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam tafsirnya menyebutkan bahwa pengertian puasa adalah
الإمْسَاكُ الْمَخْصُُوْصِ مِنْ طَلُوعِ الْفَجْرِ الثَّانِيْ إِِلَى غٌرٌوْبِ الشَّمْسِ فِيْ الشَّهْرِ الْمَعْرٌوْفِ بِلِسَانِ الشَّرِيْعَةِ وَاْلإِمْسَاكُ الْمُطْلَقُ وَاْلإِِعْرَاضُ الْكُلِّيْ عَمَّا سِوَى الْحَقِّ عِنْدَ أُوْلِيْ النُّهَى وَالْيَقِيْنِ الْمُسْتَكْشِفِينَ عَنْ سَرَائِرِ الأُمُوْرِ، الْمُتَحَقِّقِيْنَ بِهَا حَسْبَ الْمَقْدُوْرِ
Menahan yang telah ditentukan mulai terbit fajar yang kedua (fajar sādiq) sampai terbenam matahari, pada bulan tertentu sesuai syara‘. Adapun pengertian puasa secara hakiki adalah menahan dan berpaling secara keseluruhan dari apa yang tidak benar menurut orang yang berakal dan orang yang mempunyai keyakinan, yang sudah melihat dari rahasia sesuatu (puasa), menurut orang yang mempunyai ilmu kepastian sekedar kemampuan. (Abdul Qadir al-Jailani, Tafsir Al-Jailani, pent. Muhammad Fadhil al-Jailani al-Hasani (Istanbul: Maktabah Istanbūlī, 2013), juz 1, 157-158.)
Sumber: Diya Al-Afkar Vol. 5, No. 2 (Makna Puasa dalam Tafsir al-Jailani: Studi tentang Penafsiran Syekh Abdul Qadir al-Jailani)
#ramadanwithsanvalas #berita14 #timhumas14Copyright © 2017 - 2026 MTs Negeri 14 Jakarta Timur All rights reserved.